Monday, September 24, 2007

Di Sebuah Pagi

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPagi ini tiba-tiba saya teringat pada salah seorang karakter komik lama. Komik yang amat saya gemari, The New Teen Titans. Yang terbit pertama di tahun 80-an dalam versi DC, dan saya baca beberapa tahun kemudian dalam versi Cypress, terjemahannya.

Raven dari the New Teen Titans. Memakai jubah besar, yang jika tangannya terkembang dalam sebuah pertempuran, terkadang tampak seperti sayap. Wajah cantiknya samar terlihat, tertutup oleh bayang dari kerudungnya. Misterius ia.

Pada awal terbentuknya kelompok ini, teman-temannya tak mengetahui dengan jelas asal-usulnya. Mereka pun tak tau dengan pasti apa saja kekuatan Raven, atau sampai di mana kemampuannya. Satu hal yang mereka ketahui, Raven dapat menyembuhkan.

Jika ada salah satu dari mereka terluka dalam sebuah pertempuran, Raven segera merengkuh orang tersebut dalam peluknya, di balik jubahnya. Maka tampaklah Raven merasakan kesakitan yang dahsyat, sementara yang terluka berangsur sembuh.

Bukan hanya luka badan akibat pertempuran. Luka psikis disebabkan hal yang lain pun, Raven bisa menyembuhkan. Direngkuhnya orang tersebut dalam peluknya, di balik jubahnya. Maka tampaklah Raven merasakan kesakitan yang lebih dahsyat lagi. Sementara korban yang tadinya terluka berangsur sembuh, tak jarang Raven masih tampak meregang kesakitan, karena luka batin sering kali samar, tak tampak, namun dalam.

“Empath” adalah kekuatan Raven. Karena kemampuan supernya adalah untuk merasakan sakit orang lain, maka bayangkanlah betapa sakit yang ia rasakan saat ia coba menyembuhkan. Dalam rengkuhnya, dalam peluknya, ia bertempur.

Apakah benar hanya Raven yang melakukan itu? Apakah benar hanya peluknya yang mampu menyembuhkan?

Di rumah sakit, di rumah duka, di rumah ibadah. Tidakkah sebuah peluk di sana berusaha menyembuhkan? Menyembuhkan sakit dari badan, dari ingatan, dari hilangnya harapan.

Di rumah-rumah, di kamar anak-anak kecil, di pintu-pintu sekolah. Tidakkah sebuah peluk di sana juga bertempur? Bertempur dengan rasa bersalah, dari sibuk, dari ketidak berdayaan pada waktu.

Di stasiun-stasiun, di pelabuhan-pelabuhan, di bandara-bandara, tidakkah sebuah peluk yang di sana juga berusaha menyembuhkan? Menyembuhkan sakit dari keberpisahan, dari rindu, dari ketidak berdayaan pada jarak.

Di kamar-kamar terkunci, di kaca-kaca gelap mobil, di pintu-pintu bernomor, tidakkah sebuah peluk yang di sana juga bertempur? Bertempur dengan kenyataan, bertempur dengan perasaan, bertempur dengan kesempatan.

Setiap peluk tersebut mempunyai pertempurannya sendiri. Setiap peluk tersebut berusaha mengatasi takdirnya. Setiap peluk tersebut berjuang, untuk mengatasi kesementaraannya dan mencuri keabadaian. Maka semakin lambat terasa setiap detiknya. Dan berhentilah waktu di sekitarnya…

Kini sang peluk telah lahir dalam keabadian.

Diilhami oleh sebaris kalimat di sebuah biografi, dan sebuah pelukan.

You think I'd leave your side baby?
You know me better than that
You think I'd leave you down when your down on your knees?
I wouldn't do that
(Sade / By Your Side)

Thursday, September 20, 2007

Lubang-Lubang Kota

Erica Baine adalah seorang penyiar radio jempolan. Di New York tempat tinggalnya ia mengasuh sebuah acara khusus. Dalam program radionya, ia tak banyak memutar lagu namun lebih banyak ia bercerita tentang kotanya.

Kota yang ia cintai yang ia susuri satu demi satu sudut-sudutnya, yang ia telusuri satu demi satu kisah-kisahnya, untuk ia uraikan dan dibagikan secara substantif namun tetap indah kepada para pendengar setianya. Begitu banyak bahan di kotanya yang mampu membuatnya terkesima, dan melalui kata-katanya ia membagi pesona kotanya melalui gelombang udara.

Sebegitu besar cintanya pada New York, namun kota tersebut tetap mengkhianatinya. Di suatu malam yang seharusnya indah. Di taman-taman kota yang seharusnya romantis. Saat pacarnya baru saja mengajukan lamaran untuk menikahinya. Sekelompok preman menghabisi nyawa pacarnya, dan meninggalkan nona Baine tergeletak babak belur meregang nyawa.

Walau pada akhirnya nyawanya dapat diselamatkan, namun pacarnya tidak. Walau akhirnya hidup Nona Baine dapat dikembalikan, namun sebetulnya tidak.., tidak sepenuhnya.

Kematian pacarnya, calon suaminya, meninggalkan lubang dalam diri Nona Baine. Sebuah lubang yang sulit untuk diisi kembali. Sebuah lubang yang terasa lebih besar dari peluru, yang merobek hatinya, berulang-ulang, setiap saat.

Nona Baine dapat kembali bekerja, ia dapat kembali menyusuri sudut-sudut kotanya. Namun segalanya tak pernah sama. Walau tak pernah ke mana-mana, bagi Nona Baine kini kotanya tak pernah kembali. Kota yang dicintainya itu tak sanggup mengisi lubang yang ditinggalkan oleh kematian kekasihnya.

Maka ke mana pun ia pergi, Nona Baine selalu membawa sepucuk pistol. Yang selalu siap ia tembakkan kepada penghuni kotanya. Kepada siapapun penghuni kota yang ia rasa telah menghasut kotanya untuk menghianatinya. Namun lubang di dirinya tetap terlalu besar, jauh lebih besar dari lubang peluru yang ia tanamkan ke dada para berandalan, perampok, pemerkosa yang menghuni kotanya.

Sebetulnya Nona Baine di New York bukanlah yang pertama menjadi Vigilante untuk mengisi lubang tersebut. Di Gotham ada Bruce Wayne yang juga keluyuran tiap malam menghajar para penjahat untuk mengisi lubang yang ditinggalkan oleh kematian orang tuanya. Di Metropolis ada Kal El yang berkeliling dunia setiap saat menangkapi penjahat, mencegah bencana alam, melawan alien jahat, untuk menutupi lubang yang bukan saja karena kematian orang tuanya namun sekaligus kematian seluruh penduduk planet asalnya.

Dan sebetulnya di dunia nyata begitu banyak lubang di hati banyak orang biasa seperti kita. Lubang-lubang yang tidak hanya ada karena ditinggal mati oleh orang yang dikasihi. Seperti Jim Morisson pernah bilang, “Perpisahan adalah kematian kecil”. Maka makin banyaklah lubang-lubang yang tak bisa terisi lagi karena perpisahan dengan orang yang dikasihi, dengan berbagai penyebabnya.

Maka di segenap penjuru kota, berkeliaranlah orang-orang dengan lubang di dadanya. Orang yang merasa kosong karena telah ditinggalkan anak-anaknya yang telah melupakannya. Orang yang merasa hampa karena ditinggalkan oleh kekasihnya yang menipunya. Orang yang merasa papa karena ditinggal oleh muridnya yang tak tau diuntung. Orang yang merasa sia-sia karena ditinggal oleh tempat kerjanya yang tak menghargainya. Orang yang merasa terbuang karena ditinggal oleh orang tua yang tak mengakuinya.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSaat kita menyangka bahwa lubang-lubang ini hanya ada pada orang yang ditinggalkan, sepertinya kita perlu melihat lebih dekat. Anak-anak yang dengan serta merta melupakan orang tuanya pun merasa kosong. Kekasih yang menipu pasangannya pun merasa hampa. Murid yang mengecilkan gurunya pun merasa papa. Para pemimpin yang semena-mena dengan bawahannya pun merasa sia-sia. Orang tua yang mengingkari anaknya pun menyembunyikan lubang itu. Semakin banyaklah orang dengan lubang di dadanya berkeliaran di segenap penjuru kota.

Kalau dengan menjadi Vigilante insomnia setiap malam kita bisa memukuli dan mengoyak-ngoyak pejahat pun tak dapat mengisi kekosongan lubang tersebut, entah apa yang bisa dilakukan orang-orang biasa untuk mengisi lubang tersebut. Tak pernah mudah.

Belakangan, perlahan saya menyuri kota yang semakin padat ini, namun terasa semakin kosong.

Diilhami oleh film The Brave One dan Jakarta.

Peduli apa terjadi, terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan di dalam tangisan tertahan

Temukan diri dalam dunia, Tak terkira
Tak berarti tak kan pasti, Terlalu gelap
(Kosong / Pure Saturday)

Wednesday, June 13, 2007

2B or not 2B that is The Question

1a.
Sebuah iklan berkata atau bisa juga disebut bertanya, “Apa obsesimu?” Sebuah pertanyaan yang sering saya ajukan ke diri saya sendiri. Apa Obsesiku?

Dulu menjelang masa penghabisan kuliah, pertanyaan ini begitu menggebu. Walau munculnya dalam rangkaian kata yang berbeda, seperti: mau kerja di mana nanti?

Sebagai calon lulusan Ilmu Komunikasi Jurusan Komunikasi Massa yang gemar menulis, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Mau kerja di mediakah? Media cetak, radio, atau televisi? Jika media cetak, majalah atau surat kabar?

Baru belakangan disadari bahwa program studi sebelah, yaitu periklanan, juga menampung kegemaran menulis. Penulis naskah iklan. Maka so be it, jadilah saya seorang penulis naskah iklan.

1b.
Hampir sepuluh tahun kemudian, tak terhitung berapa kali saya bertanya. Benarkah pilihan pekerjaan saya? Jika benar, iklan seperti apa yang harus saya buat? Iklan yang menjual? Iklan murah? Iklan yang mendapat piala? Iklan yang cepat apruf? Iklan membawa perubahan wacana? Atau yang lebih melelahkan lagi kalau muncul pertanyaan, benarkah peran saya di dunia adalah hanya sebagai pembuat iklan?

Tak berhenti di situ, barisan pertanyaan lain akan mengikuti. Siapakah saya? Untuk apa saya hidup? Kenapa saya? Apakah peran saya?

Kemudian saya tertidur hari ini, dan esoknya terbangun dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dan pernahkah Anda bertanya seperti ini juga: Apakah kita istimewa? Apakah kita sama saja dengan milyardan orang lainnya di dunia? Apakah peran saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Kadang satu dalam sehari. Saat lainnya dua, tujuh, atau mengeroyok lebih ramai lagi. Kadang ia mengejutkan di siang bolong. Tak jarang ia membangunkan di tidur malam. Mengganggu di tengah ramai atau menemani di sendiri. Tak kuasa jika ingin dihindari.

Kepada siapa kita bisa mencari jawabnya? Kepada pasangan kita? Kepada orang tua kita? Kepada anak-anak kita? Kepada guru-guru kita? Kepada boss kita? Kepada senior kita? Kepada anak buah kita? Kepada tetangga kita? Kepada diri sendiri?

Dari hari ke hari kita terbangun, beraktifitas, dan tertidur lagi, untuk mengulangi rutin kita di keesokan harinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang hadir begitu kuat, kadang terlewatkan begitu saja. Belum tentu terjawab.

2a.
Maka mampukah Anda menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa kau begitu persuasif? Saat kau tahu bahwa kemampuanmu mengolah kata dapat mempengaruhi orang lain. Dapat membuat seseorang berbelok ke kiri atau kanan. Dapat membuat seseorang membunuh diri atau melihat sisi indah dari hidup. Dapat membuat seseorang menjual atau membeli. Menjadi menangis atau tersenyum. Tidur dan bermimpi atau terjaga semalaman

Maka mampukah kau menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang akan kau lakukan jika kau begitu sensitif? Jika tiba-tiba kau menyadari bahwa kau bisa mendengar segala macam rahasia. Rahasia yang disimpan rapat-rapat maupun yang diumbar untuk ditanggap. Rahasia yang menyenangkan hati atau menyakitkan hati. Rahasia yang begitu berarti atau tidak penting sama sekali. Rahasia yang memohon untuk diketahui atau yang ingin dibawa mati?

Maka cobalah juga menjawab: Apa yang akan kau lakukan bila kau begitu eksplosif? Jika kau mengetahui bahwa kau dapat meledak. Menjadi ledakan yang bukan hanya dapat melukai orang-orang terdekatmu, tapi juga dapat melukai orang-orang nun jauh entah di mana. Orang-orang yang kau benci maupun yang kau sayangi?

Maka cobalah jawab: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa dirimu terfragmentatif menjadi dua? Yang satu selalu mengajakmu berbuat baik sesulit apapun dan terasa lemah, membosankan dan melelahkan. Sementara yang satunya lagi selalu mengajakmu berbuat jahat, namun terasa begitu kuat, cepat, dan mengasyikan?

Coba juga jawab: Apa yang kau lakukan jika di angkasa kau begitu fluktuatif karena bisa terbang? Terbang untuk meninggalkan persoalan atau justru terbang mendatangi persoalan. Terbang membopong persoalan atau justru membuang persoalan?

Dan jawablah ini: Apa yang akan kau lakukan jika kau mendadak prophetic dan dapat merasakan masa depan? Masa depan yang mencekam dan tidak indah. Yang sudah tidak bisa ditolong walau kau bisa berjalan-jalan ke masa lalu. Sementara petunjuk di masa kini begitu samar?

2b.
Apa yang akan kau lakukan jika pilihan-pilihan tersebut hadir ke dirimu seorang? Hanya kau seorang dan bukan orang lain.

Apa yang akan kau lakukan jika kau mempunyai pilihan-pilihan: Untuk diam atau bertindak? Saat ini atau esok hari? Untuk masa lalu, masa depan, atau masa kini? Untuk disimpan sendiri atau berbagi? Untuk orang lain atau untuk diri sendiri? Untuk selamat sendiri atau keselamatan orang lain? Untuk melarikan diri atau menyediakan diri? Untuk menjadi pahlawan mungkin kesiangan atau menonton di pinggiran?

Siapkah dirimu untuk menghadapi barisan pertanyaan-pertanyaan ini? Karena cepat atau lambat sang takdir akan menghampirimu, ke mana pun kau bersembunyi.


Diilhami oleh Film Seri Heroes Volume Satu dan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di musim itu.

Cinta bukan hanya sekedar kata.
Cinta tak hanya diam.

Aku yang berkelana mengarungi hidup.
Mencari untaian arti makna.
Apakah sesungguhnya balasan dari cinta?
(Padi, Tak Hanya Diam)

Monday, April 09, 2007

Selamat Pagi Jenderal!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Apakah yang kita tau tentang Jenderal Soedirman? Selain bahwa ia adalah seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia? Selain bahwa wajahnya diabadikan di uang kertas dari 1 sampai 10.000 rupiah? Selain bahwa namanya diabadikan sebagai jalan protokol tempat berdiri gedung-gedung perkantoran elit di Jakarta? Selain bahwa patungnya berdiri tegak di jalan tersebut dalam posisi menghormat?

Apakah yang kita tau tentang Jenderal Soedirman? Sakit apakah ia sehingga perlu ditandu saat perang gerilya? Siapakah para penandunya? Berapa lama ia keluar masuk hutan saat perang gerilya? Di hutan mana, di gunung apa ia bersembunyi pada saat itu? Di sungai mana ia berwudhu? Berapa tentara musuh yang berhasil ia bunuh? Apa makanan kesukaannya? Sukakah ia pada musik? Apakah bintangya? Senjata apa yang paling mahir digunakannya? Apakah doanya pada malam hari? Apa yang diharapkan bagi Negara ini setelah meraih kemerdekaannya? Mengapa ia begitu dihormati oleh anak buahnya dan para pemimpin Negara kita pada waktu itu? Mengapa ia bisa menjadi Jenderal di usia yang sangat muda? Apa yang dikatakan ketika memberi semangat anak buahnya? Bagaimana strategi perangnya? Mengapa ia begitu ingin mempertahankan negara yang baru merdeka pada saat itu? Kepada siapa ia menghormat?

Tak semua pertanyaan ini bisa menjelaskan siapakah sebenarnya Jenderal Soedirman. Tak semua pertanyaan ini bisa kita jawab. Tapi mungkin seorang Nagabonar bisa menjawabnya. Nagabonar, seorang raja copet buta huruf yang diangkat menjadi Jenderal pada saat perang kemerdekaan. Turut berperang mempertahankan kemerdekaan di hutan-hutan Sumatera, namun cukup beruntung untuk hidup sampai sekarang dan bisa mengunjungi Jakarta Ibu Kota Negara di tahun 2000an.

Walau tidak bisa mengungkapkan seluruhnya dengan kata-kata, mungkin Nagabonar bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Jawabannya ditunjukkan dengan melakukan penghormatan terhadap patung Sang Jenderal Soedirman yang berdiri tegak di tengah kemacetan jalan Sudirman. Ia juga menunjukkan jawabannya dengan melakukan protes keras karena patung Sang Jenderal berada dalam posisi menghormat ke arah lalu lalang lalu lintas. Kepada siapa ia menghormat?

Sebarisan anak sekolah yang lelah belajar dan bermimpi untuk bekerja di kawasan ini suatu saat nanti? Sebarisan sarjana yang lelah mengetuk pintu-pintu kantor hanya untuk mendapatkan jawaban tiada lowongan? Sebarisan karyawan kantor rendahan yang lelah terjebak macet dan merindukan keluarganya yang jarang ia temui? Sebarisan pencopet yang lelah berdesakan, siap mencuri dompet, ponsel, atau perhiasan dari orang-orang tadi? Sebarisan pengamen yang lelah bernyanyi di tengah kebisingan klakson? Sebarisan pengemudi kendaraan umum yang lelah berebut penumpang dan cemas tidak mencukupi setorannya hari ini?

Sebarisan karyawan menengah yang lelah masuk ke kantornya masing-masing, namun terbayang cicilan rumah mobil dan lain-lain yang tak terbayar kalau mereka terdepak dari pekerjaannya? Sebarisan jajaran manajemen yang lelah berpikir untuk meningkatkan keuntungan kantornya dengan cara apapun? Sebarisan pejabat yang lelah berpikir tentang solusi untuk carut marutnya negeri dan lebih mudah berpikir untuk kantongnya sendiri? Atau sebarisan orang-orang asing yang menduduki posisi penting di kantornya masing-masing dan menikmati penghasilan dan fasilitas tertinggi?

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPatung Sang Jenderal tetap memberi hormat tanpa lelah. Kepada siapa pun ia menghormat, Nagabonar tetap tidak rela. Maka ia memohon kepada patung tersebut untuk menurunkan tangannya. Namun patung itu tidak bergeming. Karena seperti patung-patung lainnya, ia tidak diciptakan untuk mendengar kita. Ia diciptakan agar kita mendengar apa yang bersuara di hati kita saat melihat patung tersebut.
Kepada siapa kita menghormat?

Diilhami film Nagabonar 2 ditulis di Plasa DM, lt. 19. Jalan Jend. Sudirman Kav 25. JAKARTA PUSAT.

Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji
(Darah Juang / John S. Tobing dan Andy Munajat)

Friday, March 30, 2007

Sekeping Aku

Sekeping perutku
bisa bercerita tentang
kureguk tetes alkohol berulang
kunyahan daging setengah matang
teh kemasan setia mengundang
Namun tak akan ia bercerita tentang
pelukan mabuk saat kepayang
apa melekat kala telanjang
ruang mana setia terbayang

Sekeping rambutku
bisa berkisah tentang
kuputar keras musik meradang
animasi Jepang di saat senggang
plintir angan kata berdagang
Namun tak akan ia berkisah tentang
gelap suara di malam panjang
gambar mengusik pagi menjelang
mimpi menusuk di empuk ranjang

Sekeping bibirku
bisa bertutur tentang
kuhisap rantai tembakau berbatang
senyum tawa sadar terpajang
halus kasar ucap kujerang
Namun tak akan ia bertutur tentang
bibir lain usai bertandang
air mata ditelan bimbang
Doa malam berbisik tenang

kepingan manapun dariku
kepingan diriku
kepingan aku
kepinganku
keping
ke keping

Serok ia dari yang terserak
tetap enggan semua terkuak

H -3 dari 30 03 2007

Wednesday, January 10, 2007

Ramadhan di Baghdad

Tersebutlah hikayat tentang Baghdad di suatu masa, Kota Firdaus julukannya, menghiasi Arabia bagai permata, ketika Sultan Haroun Al Raschid berkuasa, Sang Raja dari para Raja, Sang Pangeran bagi kaum yang beriman.

Tak tertandingi yang mengisi pemerintahannya. Telah dikumpulkan cendekia dari penjuru dunia. Ahli kimia, matematika, astronomi, geografi, ilmu faal, sastra, ahli bahasa, ahli kaligrafi, dan seterusnya. Begitu juga Ahli kitab Yahudi, para Pendeta Agung Nasrani, dan cendekia tafsir Al Qur’an, yang bekerja dengan cerah pikiran dan kekuatan iman. Maka dikatakanlah istananya sebagai, Istana Kebijakan.

Tak tertandingi yang mengisi haremnya. Telah dikumpulkan kecantikan dari penjuru benua. Taat dan setia. Dengan kulit seputih pasir gurun tak terjelahi; kulit secokelat gunung dipandang sore hari, kulit sekuning asap dari api yang murni; atau kulit sehitam cemerlang obsidian. Bukan hanya wanita, pria muda pun ada. Kesemuanya menguasai seni kepuasan, dengan gerakan tubuh, dengan kerlingan mata, dengan halus irama. Maka dikatakanlah istananya sebagai Istana Kenikmatan.

Tak tertandingi sihir yang memenuhi istananya. Ahli astrologi yang dapat menterjemahkan kehendak Allah melalu tarian cahaya Bintang. Pelantun puji-pujian Cina dan Mongolia dengan lengan panjang penuh rahasia; Penyihir Bedouin yang mengetahui rahasia malaikat, jin, dan manusia; Terdapat pula penyair, musisi, pelukis, dan orang-orang tercerdas dalam bidang estetika; Ada juga mahluk jadi-jadian bertubuh manusia berkepala hewan atau sebaliknya; atau binatang yang berbicara, atau alat mekanik yang bernyanyi, bergerak ketika dipinta. Maka dikatakanlah istananya sebagai istana keajaiban.

Sultan Haroun memerintah dengan adil bijaksana. Di bawah kepepimimpinannya, kotanya sejahtera, seluruh Arabia turut berkembang dan merasakan pengaruhnya. Namun jauh di dalam hati ada keresahan dalam jiwa Sang Sultan.

Saat itu adalah bulan Ramadhan, bulan tersuci dalam penanggalan Lunar, bulan ketika Malaikat Jibril dahulu pertama kali menyampaikan sabda Allah, kepada Nabi Muhammad SAW. Namun hati Sang Sultan dilanda kegundahan.

Istrinya tak bisa menghiburnya dengan kecantikannya, penasihatnya tak bisa melegakan dengan kebijakannya, penyair istana tak bisa memuaskan dengan kisahnya, kota Baghdad tak bisa mengalihkan dengan keindahannya. Semua ditolaknya dengan halus. Sesuatu tetap mengganggu lubuk hati Sang Sultan.

Maka berjalanlah Sang Sultan jauh ke jantung istananya. Menuju ke sebuah ruangan. Melewati harum suasana harem, kelam tahanan para tawanan, silau tumpukan emas permata, angker penyimpanan senjata pusaka, labirin tak terpeta, dan pintu-pintu rahasia. Sampai ia menemukan sebuah pintu dari api, yang hanya bisa dibuka dengan kunci emas yang dikalungkannya, lalu masuklah ia.

Hanya ada sebuah bola kaca di ruangan itu, tergeletak di bantal satin. Berkabut dan berasap isi bola tersebut, Jutaan riwayat kejahatan isinya. Sebuah bola kaca berusia ribuan tahun. Berisikan iblis-iblis dan jin ifrit. Yang ditangkap dan dipenjara oleh Nabi Sulaiman, Yang bersumpah untuk membalas dendam dan menyebarkan petaka bagi anak cucu Adam.

Dengan bola itu Sultan Harun memanggil seorang Raja yang lain. Raja dari dunia Mimpi, Pangeran dari Kisah-Kisah, Penguasa saat terlelap. Morpheus.
Dengan bola itu Sultan Harun mengancam. Melemparkannya ke Kota Baghdad. Yang akan membebaskan kejahatan di dalamnya. Jika Morpheus tak datang kepadanya.

Maka datanglah Morpheus kepadanya. Maka Sultan Haroun mengajukan penawaran. “Saya Haroun ibn Mohammed ibn Abdallah ibn Mohammed ibn Ali bin Abdullah ibn Abbas , Kalifah Kota Baghdad. Menawarkan kepada Anda kota ini. Kotaku dalam masa keemasan beserta segenap isinya. Saya ingin Anda membelinya dari saya dan membawanya ke dunia mimpi, sebagai gantinya saya ingin kota ini hidup selamanya, tak pernah mati dan dilupakan. Tak lekang oleh waktu. Tak musnah oleh jaman. Tetap abadi. Sampai kapanpun nanti.”

Photobucket - Video and Image Hosting

Maka diterima tawaran tersebut oleh Morpheus, sang penguasa mimpi, sang pangeran kisah-kisah. Maka abadilah kota Baghdad dengan segala kejayaannya di dunia mimpi.

Maka terbangunlah Sultan Haroun di sebuah siang yang terik.

Tampaknya ia tertidur di pinggir pasar, diperhatikan keadaan sekelilingnya, pasar yang becek, pedagang berkeringat, para pencopet, pengemis bau, dan sesosok misterius yang memegang miniatur sebuah botol. Terlihat sebuah kota yang begitu indah dan hidup dalam botol itu. Sultan Haroun sejenak mengagumi kota tersebut dan ia berlalu ke istananya yang compang camping.

Ia berusaha mengingat-ingat mimpinya yang rasanya begitu indah. Tentang sebuah kota yang abadi keindahan dan kesempurnaanya. Dan ia menatap realitanya yang compang-camping menghapus mimpi-mimpinya.

Sejenak ia menyesal dan sakit hati, karena ia pernah lupa bahwa tak ada yang abadi di dunia nyata, seberapa kuatpun ia memperjuangkannya. Ia pun berusaha tertidur lagi, ingin merangkul mimpinya tentang keabadian. Matanya sulit terpejam, saat itu bulan Ramadhan, di dunia fana.

Selamat Menjalani Ibadah Puasa, Idul Fitri, Natal, Idul Qurban, dan Tahun Baru untuk semuanya.

Ditulis ulang, dan tidak berarti dibandingkan aslinya: komik karya Neil Gaiman, The Sandman volume 6: Fables and Reflection, Ramadhan, hal 226 – 258.

Tuesday, July 25, 2006

Mengapa Kita Tidak Membutuhkan Superman?

Apa yang tidak dimiliki oleh seorang Superman? Dalam dirinya segalanya serba super. Kekuatan, kepandaian, kecepatan, kekebalan, dan kelebihan yang lain, semuanya super. Tak hanya itu, walau tak jelas agamanya apa, ia pun memiliki hati yang super baik, jiwa yang super bersih. Kalau ada 4 tiang moral di Jagad DC, satu disangga oleh Batman, satu lagi disangga oleh Wonder Woman, dan dua sisanya tentu saja disangga oleh Superman.

Maka jika masyarakat Gotham menakuti Batman yang misterius, rakyat Amazon mematuhi Wonder Woman yang masih turunan dewa, masyarakat bumi mencintai Superman walau ia peranakan Kripton. Siapa yang tidak cinta padanya? Siapa yang berani berkata bahwa planet bumi tidak membutuhkannya?

Superman yang dalam satu trayek bisa menahan gedung runtuh di Metropolis, menangkap kereta jatuh di Jepang, mematikan kebakaran di Perancis, dan menangkap meteor di atmosfir bumi. Siapa yang berani-berani berkata bahwa planet bumi tidak membutuhkan Superman?

Apalagi ketika berbagai bencana hadir di muka bumi, bukan hanya disebabkan oleh peristiwa alam namun juga dibangkitkan oleh perilaku manusianya. Siapa yang berkata bahwa planet bumi tidak membutuhkan Superman?

Saat ombak sekian meter tingginya menghantam pantai. Saat gedung-gedung tinggi bergetar seperti tertiup. Saat bom-bom menghantam perumahan sipil. Saat peluru menembus tulang anak-anak. Siapa yang berani-berani berkata bahwa planet bumi tidak membutuhkan Superman?

Hanya Lois Lane yang bisa berkata seperti itu. Dengan lantang ia berkata bumi tidak membutuhkan Superman! Karena ia tau pasti Superman entah ke mana. Entah di mana. Ia tidak berada di salah satu sudut bumi. Ia tidak sedang mendinginkan hati di Kutub Utara, di Fortress of Solitude. Ia bahkan mungkin tidak sedang berada di tata surya kita.

Lois tau, seberapa besar pun cintanya, kehidupannya harus jalan terus, dengan atau tanpa kehadiran Superman. Lois juga tau, seberapa besar pun ketergantungan umat manusia, kehidupan harus tetap berjalan, dengan atau tanpa kehadiran Superman. Lois tau betul, seberapa besar pun katastropik yang dihadapi, kita harus tetap berjalan, dengan atau tanpa Superman.

Lois tau betul seberapa besar rasa kehilangan yang dihadapi. Karena ditinggalkan oleh orang yang dicintai, ditinggalkan oleh harta dan benda, ditinggalkan oleh alam yang ramah, ditinggalkan oleh negara yang damai. Banjir air mata tidak pernah cukup untuk memadamkan persoalan seperti ini.

Tapi kita harus tetap mampu berjalan. Bersama ataupun sendiri. Cukup bangun benteng-benteng kesendirian kita dalam hati, seberapa pun dingin rasanya. berlindung sejenak di sana, untuk kembali menghadapi hari esok yang tak pernah mudah. Karena seperti kata seorang penulis, hidup harus dibela. Paling tidak dimulai oleh kita sendiri.

Diilhami oleh Film Superman Returns, katastropik di berbagai penjuru dan peringatan gempa siang ini.

“And if I built this fortress around your heart
Encircled you in trenches and barbed wire
Then let me build a bridge, for I cannot fill the chasm
And let me set the battlements on fire”
(Sting / Fortress around your heart / The Dream Of The Blue Turtles / 1985)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?