Wednesday, December 28, 2005
Extra Features: Behind The Scene
Maukah Anda muncul 1 – 2 detik di sebuah film?
Kalau saya yang diberi pertanyaan ini saya akan menjawab: Mau, kalau saya ada di film The Warriors menjadi salah satu anggota gank, Savage Huns yang dari Chinatown juga gapapa. Atau di film Colors, Boyz in The Hood, atau Beat Street. Atau kalau ada masalah dengan etnisitas, bolehlah saya muncul jadi salah satu penonton di film The Doors, salah satu demonstran di Film Gie, salah satu penonton konser di film Kuldesak. Dan saya tentu akan bahagia sekali kalau misalnya saja di film dokumentasi tour dunia Metallica atau Red Hot, tiba-tiba ada saya berjingkrak di antara penonton. Tapi tentu saja saya akan cenderung ogah misalnya saja saya disuruh menjadi salah 1 Orc di Lord Of the Ring, Salah satu penyihir di Harry Potter, atau jadi salah seorang turis di Cinta Silver misalnya.
Tapi pertanyaan yang sama tentu akan mendapat jawaban yang berbeda kalo kita tanyakan ke mereka. Orang-orang ini, orang-orang yang semalaman bergadang dengan saya. Yang seharusnya pegal berdiri, sementara saya duduk aja pegal. Yang tampak menahan kantuk, menahan kencing, menahan bosan. Yang tampak melakukan gerakan itu-itu aja, baik yang penuh penghayatan, maupun yang asal-asalan. Yang berdandan habis-habisan dan harap-harap cemas. Yang berkostum pelayan, yang berkostum anak gaul lagi jalan-jalan, yang berkostum orang kantoran. Yang saya bayang-bayangkan kuliahnya di mana, atau kerjanya di mana, atau kalau wiken nongkrong di mana. Yang saya bayang-bayangkan mimpinya apa. Orang orang ini, figuran-figuran dalam iklan.
Kalau kita ambil rata-rata durasi sebuah iklan TV adalah 30 detik. Seandainya dalam iklan tersebut kita mempergunakan 3 karakter Utama, maka masing-masing karakter akan muncul selama 10 detik. Hitungan ini masih belum dikurangi lagi dengan 2 - 3 detik untuk produk/logo.
Tapi gak apa-apa, terkadang 10 detik ini sudah bisa mengubah hidup seseorang. Sebut saja Elma Theana, si gendut iklan Telkomsel, atau Mariana yang di pemunculan pertamanya membuat kita semua berkata, where have you been all of my life?
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang kerja di Label Musik, pernah mengajak saya untuk ke Hard Rock. “Ayo Yog ke Hard Rock, Ada Band manggung.” Dengan ogah-ogahan saya menjawab, “Ah di Hard Rock emang selalu ada band manggung.” Ia menjawab, “Bukan, ini band baru, namanya Ada Band.” Oooo, saya baru mengerti. Saya langsung terbayang, Pas Band. Band 3 huruf lainnya, yang tak pernah saya lewatkan saat mereka I like Mondays di HRC. Lalu saya bertanya, “Bagus enggak? Musiknya gimana?” Lalu jawaban teman gue adalah, “Ini band baru yang lagi gue promosiin, vokalisnya yang main iklan coca cola yang gitar itu.” Mohon maaf buat teman saya, jawabannya tidak meyakinkan saya untuk pergi. Anyway, saya terbayang, mungkinkah ada Ada Band, kalo Baim tidak ada di iklan coca cola.
Nah, kalo 20 sampai 25 detik adalah untuk sang bintang utama, yang mungkin saja seorang musisi, model, bintang film, yang sudah melewati proses casting berbelit, atau bahkan sang produk yang diiklankan, maka berapa detik yang tersisa untuk para figuran ini? Mungkin pertanyaannya adalah berapa frame, yang berarti sepersekian detik. Atau bahkan, dari sepersekian detik itu benarkah mereka akan tampak wajahnya, atau cuma punggungnya, atau bahkan terpotong di ruang offline?
Entahlah, yang pasti mereka tampak senang-senang saja, dan kami pun akan kelabakan jika tidak ada mereka. Walau mimpi kita berbeda, sesuatu jelas mempertemukan kita di malam panjang syuting iklan hari ini, dan kita semua pun tetap terjaga demi mimpi masing-masing.
Diilhami oleh para bintang diinjak King Kong sampai punggung-punggung tak bernama di mall, restoran, pasar, konser, dll. Vidio Klip Atiek CB. Dan tiba-tiba ingin manggung.
“Mama lihat sini aku ada di tivi
meliuk menari sepenuh imaji
Papa lihat sini aku ada di tivi
Berlari secepat fantasi, orasi sebebas ambisi
Sempurnalah hidupku kini
Ku ada di tivi maka aku ada
Dan tunggu sebentar lagi
Ku akan kembali setelah yang satu ini”
(Liga Musik/ I’m on TV Therefore I Exist)
Kalau saya yang diberi pertanyaan ini saya akan menjawab: Mau, kalau saya ada di film The Warriors menjadi salah satu anggota gank, Savage Huns yang dari Chinatown juga gapapa. Atau di film Colors, Boyz in The Hood, atau Beat Street. Atau kalau ada masalah dengan etnisitas, bolehlah saya muncul jadi salah satu penonton di film The Doors, salah satu demonstran di Film Gie, salah satu penonton konser di film Kuldesak. Dan saya tentu akan bahagia sekali kalau misalnya saja di film dokumentasi tour dunia Metallica atau Red Hot, tiba-tiba ada saya berjingkrak di antara penonton. Tapi tentu saja saya akan cenderung ogah misalnya saja saya disuruh menjadi salah 1 Orc di Lord Of the Ring, Salah satu penyihir di Harry Potter, atau jadi salah seorang turis di Cinta Silver misalnya.
Tapi pertanyaan yang sama tentu akan mendapat jawaban yang berbeda kalo kita tanyakan ke mereka. Orang-orang ini, orang-orang yang semalaman bergadang dengan saya. Yang seharusnya pegal berdiri, sementara saya duduk aja pegal. Yang tampak menahan kantuk, menahan kencing, menahan bosan. Yang tampak melakukan gerakan itu-itu aja, baik yang penuh penghayatan, maupun yang asal-asalan. Yang berdandan habis-habisan dan harap-harap cemas. Yang berkostum pelayan, yang berkostum anak gaul lagi jalan-jalan, yang berkostum orang kantoran. Yang saya bayang-bayangkan kuliahnya di mana, atau kerjanya di mana, atau kalau wiken nongkrong di mana. Yang saya bayang-bayangkan mimpinya apa. Orang orang ini, figuran-figuran dalam iklan.
Kalau kita ambil rata-rata durasi sebuah iklan TV adalah 30 detik. Seandainya dalam iklan tersebut kita mempergunakan 3 karakter Utama, maka masing-masing karakter akan muncul selama 10 detik. Hitungan ini masih belum dikurangi lagi dengan 2 - 3 detik untuk produk/logo.
Tapi gak apa-apa, terkadang 10 detik ini sudah bisa mengubah hidup seseorang. Sebut saja Elma Theana, si gendut iklan Telkomsel, atau Mariana yang di pemunculan pertamanya membuat kita semua berkata, where have you been all of my life?
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang kerja di Label Musik, pernah mengajak saya untuk ke Hard Rock. “Ayo Yog ke Hard Rock, Ada Band manggung.” Dengan ogah-ogahan saya menjawab, “Ah di Hard Rock emang selalu ada band manggung.” Ia menjawab, “Bukan, ini band baru, namanya Ada Band.” Oooo, saya baru mengerti. Saya langsung terbayang, Pas Band. Band 3 huruf lainnya, yang tak pernah saya lewatkan saat mereka I like Mondays di HRC. Lalu saya bertanya, “Bagus enggak? Musiknya gimana?” Lalu jawaban teman gue adalah, “Ini band baru yang lagi gue promosiin, vokalisnya yang main iklan coca cola yang gitar itu.” Mohon maaf buat teman saya, jawabannya tidak meyakinkan saya untuk pergi. Anyway, saya terbayang, mungkinkah ada Ada Band, kalo Baim tidak ada di iklan coca cola.
Nah, kalo 20 sampai 25 detik adalah untuk sang bintang utama, yang mungkin saja seorang musisi, model, bintang film, yang sudah melewati proses casting berbelit, atau bahkan sang produk yang diiklankan, maka berapa detik yang tersisa untuk para figuran ini? Mungkin pertanyaannya adalah berapa frame, yang berarti sepersekian detik. Atau bahkan, dari sepersekian detik itu benarkah mereka akan tampak wajahnya, atau cuma punggungnya, atau bahkan terpotong di ruang offline?
Entahlah, yang pasti mereka tampak senang-senang saja, dan kami pun akan kelabakan jika tidak ada mereka. Walau mimpi kita berbeda, sesuatu jelas mempertemukan kita di malam panjang syuting iklan hari ini, dan kita semua pun tetap terjaga demi mimpi masing-masing.
Diilhami oleh para bintang diinjak King Kong sampai punggung-punggung tak bernama di mall, restoran, pasar, konser, dll. Vidio Klip Atiek CB. Dan tiba-tiba ingin manggung.
“Mama lihat sini aku ada di tivi
meliuk menari sepenuh imaji
Papa lihat sini aku ada di tivi
Berlari secepat fantasi, orasi sebebas ambisi
Sempurnalah hidupku kini
Ku ada di tivi maka aku ada
Dan tunggu sebentar lagi
Ku akan kembali setelah yang satu ini”
(Liga Musik/ I’m on TV Therefore I Exist)
