Wednesday, December 21, 2005
Packing My Shotgun
Dalam salah satu episode Friends diceritakan Joey, Chandler, dan Ross melakukan sebuah kegiatan yang biasa mereka lakukan jaman sekolah. Detail kegiatannya apa saya lupa, namun berhubungan dengan mabuk2an dan kemudian lari2an. Apapun kegiatan itu, sebelum hari H mereka begitu bersemangat untuk mengulangi pengalaman itu lagi. Terbayang begitu serunya dulu ketika sering melakukan itu, dan kini akan diulangi lagi.
Namun setelah hari H, mereka pulang dengan muka kusut dan lesu. Teman2 cewek tentu terheran-heran dan bertanya, kenapa? Jawaban mereka, sialan sekaran kita sudah berumur dua puluh sekian, ternyata kegiatan anak belasan tahunan itu sudah tidak lagi nikmat, malah melelahkan. Sesuatu yang seru dulu, belum tentu seru kini, tak semua hal bisa diulang dengan intensitas yang sama.
Kalau mereka yang dua puluhan saja bisa merasakan hal tersebut, apalagi jika nanti kita sudah 30an. Been there done that attitude jelas saja menghantui. Tak ada lagi band yang bisa menghantam kita sekeras Metallica, mewakili kita sejelas Slank, yang bisa dibuat mabok selemas The Cure, atau membuat kita segemas pada Madonna (hmmm mungkin Gwen Stefani bisa).
Hal-hal yang dulu terasa begitu seru, seperti minum bir bersama di balkon rumah, menggrafiti kolong jembatan, mencuri rambu, ngopi berjam-jam di mal, ngoceh berbusa-busa tentang musik, politik, dan intrik2 kampus, mencoba-coba racikan baru, menemukan bandar baru, dan lain-lain, tiba-tiba kadar serunya terasa berkurang malah ada yang menghilang. Tiba-tiba semuanya masuk ke kategori good old days, yang hanya seru ditempatkan di kisah-kisah nostalgia.
Manggung di depan ribuan orang, mabuk bersama puluhan teman di pinggir pantai, malang melintang di antara satu peer group ke peer group yang lain, saya yakin sudah tak bisa diulang lagi. Kalaupun diulang, tak mungkin dengan intensitas yang sama.
Terus bagaimana? Bagaimana kita mendapatkan itu lagi. Sesuatu untuk bersenang, sesuatu yang cukup sederhana, namun cukup seru. Sesuatu yang tidak membuat kita bicara, ah enakan jaman dulu, kalo dulu lebih blablablbla.
Coba deh menembak orang. Ajak teman-teman untuk saling membunuh. Kalau perlu bagi teman2 menjadi dua tim, berdasarkan agama. (usul yang terakhir ini tidak diterima oleh teman2 kantor saya). Lalu lakukan sebuah pertempuran. Bukan, bukan pertempuran beneran, cukup yang simulasi. Dengan peluru paint ball, dan mati boongan. Dan temukan kepuasan membunuh, sebuah hal yang sebelumnya hanya bisa saya lakukan di network game. Temukan kepuasaan menaklukan musuh. Hasta la Victoria Siempre!

(Kamera & Fontasi: Cimot, Foto: Masnya.)
Diilhami oleh 3234 dan MOHAA.
“Tell me what to do
You know I can't see through the haze around me
And I do anything that just feel better.”
(Santana & Steven Tyler)
Namun setelah hari H, mereka pulang dengan muka kusut dan lesu. Teman2 cewek tentu terheran-heran dan bertanya, kenapa? Jawaban mereka, sialan sekaran kita sudah berumur dua puluh sekian, ternyata kegiatan anak belasan tahunan itu sudah tidak lagi nikmat, malah melelahkan. Sesuatu yang seru dulu, belum tentu seru kini, tak semua hal bisa diulang dengan intensitas yang sama.
Kalau mereka yang dua puluhan saja bisa merasakan hal tersebut, apalagi jika nanti kita sudah 30an. Been there done that attitude jelas saja menghantui. Tak ada lagi band yang bisa menghantam kita sekeras Metallica, mewakili kita sejelas Slank, yang bisa dibuat mabok selemas The Cure, atau membuat kita segemas pada Madonna (hmmm mungkin Gwen Stefani bisa).
Hal-hal yang dulu terasa begitu seru, seperti minum bir bersama di balkon rumah, menggrafiti kolong jembatan, mencuri rambu, ngopi berjam-jam di mal, ngoceh berbusa-busa tentang musik, politik, dan intrik2 kampus, mencoba-coba racikan baru, menemukan bandar baru, dan lain-lain, tiba-tiba kadar serunya terasa berkurang malah ada yang menghilang. Tiba-tiba semuanya masuk ke kategori good old days, yang hanya seru ditempatkan di kisah-kisah nostalgia.
Manggung di depan ribuan orang, mabuk bersama puluhan teman di pinggir pantai, malang melintang di antara satu peer group ke peer group yang lain, saya yakin sudah tak bisa diulang lagi. Kalaupun diulang, tak mungkin dengan intensitas yang sama.
Terus bagaimana? Bagaimana kita mendapatkan itu lagi. Sesuatu untuk bersenang, sesuatu yang cukup sederhana, namun cukup seru. Sesuatu yang tidak membuat kita bicara, ah enakan jaman dulu, kalo dulu lebih blablablbla.
Coba deh menembak orang. Ajak teman-teman untuk saling membunuh. Kalau perlu bagi teman2 menjadi dua tim, berdasarkan agama. (usul yang terakhir ini tidak diterima oleh teman2 kantor saya). Lalu lakukan sebuah pertempuran. Bukan, bukan pertempuran beneran, cukup yang simulasi. Dengan peluru paint ball, dan mati boongan. Dan temukan kepuasan membunuh, sebuah hal yang sebelumnya hanya bisa saya lakukan di network game. Temukan kepuasaan menaklukan musuh. Hasta la Victoria Siempre!

(Kamera & Fontasi: Cimot, Foto: Masnya.)
Diilhami oleh 3234 dan MOHAA.
“Tell me what to do
You know I can't see through the haze around me
And I do anything that just feel better.”
(Santana & Steven Tyler)
