Monday, April 09, 2007

Selamat Pagi Jenderal!

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Apakah yang kita tau tentang Jenderal Soedirman? Selain bahwa ia adalah seorang pahlawan kemerdekaan Indonesia? Selain bahwa wajahnya diabadikan di uang kertas dari 1 sampai 10.000 rupiah? Selain bahwa namanya diabadikan sebagai jalan protokol tempat berdiri gedung-gedung perkantoran elit di Jakarta? Selain bahwa patungnya berdiri tegak di jalan tersebut dalam posisi menghormat?

Apakah yang kita tau tentang Jenderal Soedirman? Sakit apakah ia sehingga perlu ditandu saat perang gerilya? Siapakah para penandunya? Berapa lama ia keluar masuk hutan saat perang gerilya? Di hutan mana, di gunung apa ia bersembunyi pada saat itu? Di sungai mana ia berwudhu? Berapa tentara musuh yang berhasil ia bunuh? Apa makanan kesukaannya? Sukakah ia pada musik? Apakah bintangya? Senjata apa yang paling mahir digunakannya? Apakah doanya pada malam hari? Apa yang diharapkan bagi Negara ini setelah meraih kemerdekaannya? Mengapa ia begitu dihormati oleh anak buahnya dan para pemimpin Negara kita pada waktu itu? Mengapa ia bisa menjadi Jenderal di usia yang sangat muda? Apa yang dikatakan ketika memberi semangat anak buahnya? Bagaimana strategi perangnya? Mengapa ia begitu ingin mempertahankan negara yang baru merdeka pada saat itu? Kepada siapa ia menghormat?

Tak semua pertanyaan ini bisa menjelaskan siapakah sebenarnya Jenderal Soedirman. Tak semua pertanyaan ini bisa kita jawab. Tapi mungkin seorang Nagabonar bisa menjawabnya. Nagabonar, seorang raja copet buta huruf yang diangkat menjadi Jenderal pada saat perang kemerdekaan. Turut berperang mempertahankan kemerdekaan di hutan-hutan Sumatera, namun cukup beruntung untuk hidup sampai sekarang dan bisa mengunjungi Jakarta Ibu Kota Negara di tahun 2000an.

Walau tidak bisa mengungkapkan seluruhnya dengan kata-kata, mungkin Nagabonar bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. Jawabannya ditunjukkan dengan melakukan penghormatan terhadap patung Sang Jenderal Soedirman yang berdiri tegak di tengah kemacetan jalan Sudirman. Ia juga menunjukkan jawabannya dengan melakukan protes keras karena patung Sang Jenderal berada dalam posisi menghormat ke arah lalu lalang lalu lintas. Kepada siapa ia menghormat?

Sebarisan anak sekolah yang lelah belajar dan bermimpi untuk bekerja di kawasan ini suatu saat nanti? Sebarisan sarjana yang lelah mengetuk pintu-pintu kantor hanya untuk mendapatkan jawaban tiada lowongan? Sebarisan karyawan kantor rendahan yang lelah terjebak macet dan merindukan keluarganya yang jarang ia temui? Sebarisan pencopet yang lelah berdesakan, siap mencuri dompet, ponsel, atau perhiasan dari orang-orang tadi? Sebarisan pengamen yang lelah bernyanyi di tengah kebisingan klakson? Sebarisan pengemudi kendaraan umum yang lelah berebut penumpang dan cemas tidak mencukupi setorannya hari ini?

Sebarisan karyawan menengah yang lelah masuk ke kantornya masing-masing, namun terbayang cicilan rumah mobil dan lain-lain yang tak terbayar kalau mereka terdepak dari pekerjaannya? Sebarisan jajaran manajemen yang lelah berpikir untuk meningkatkan keuntungan kantornya dengan cara apapun? Sebarisan pejabat yang lelah berpikir tentang solusi untuk carut marutnya negeri dan lebih mudah berpikir untuk kantongnya sendiri? Atau sebarisan orang-orang asing yang menduduki posisi penting di kantornya masing-masing dan menikmati penghasilan dan fasilitas tertinggi?

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPatung Sang Jenderal tetap memberi hormat tanpa lelah. Kepada siapa pun ia menghormat, Nagabonar tetap tidak rela. Maka ia memohon kepada patung tersebut untuk menurunkan tangannya. Namun patung itu tidak bergeming. Karena seperti patung-patung lainnya, ia tidak diciptakan untuk mendengar kita. Ia diciptakan agar kita mendengar apa yang bersuara di hati kita saat melihat patung tersebut.
Kepada siapa kita menghormat?

Diilhami film Nagabonar 2 ditulis di Plasa DM, lt. 19. Jalan Jend. Sudirman Kav 25. JAKARTA PUSAT.

Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji
(Darah Juang / John S. Tobing dan Andy Munajat)

Comments:
Bangsa kita emang gitu Ga, alergi sama yang namanya :

1. Minta maaf
2. Mumuji seseorang krn sesuatu yang baik
3. Dikritik untuk sesuatu yang baik
4. Menghargai jasa seseorang

Gue rasa kisah Jend.Sudirman elo cuma salah satu contoh aja. Coba tengok lagi deh, ada berapa banyak jasa-jasa yang mampu mengangkat harkat bangsa ini dengan mudahnya terlupakan oleh arus jaman.

Generasi baru nampak superior, paling hebat, dan unbeatable. Mereka lupa kalau kelak akan tua, mati, dan dilupakan lagi oleh generasi selanjutnya.

Contoh: Program Abri Masuk Desa, REPELITA dan PELITA, Keluarga Berencana, peringatan 17 Agustus, penghargaan kepada guru, pegawai, pengemudi teladan dll. Kemana itu semua? Hanya karena dicetuskan oleh Soeharto maka semua dianggap HARAM. Soeharto boleh jadi bandit, nama program pun bolehlah jadi tabu, tapi konsep yang positif gua rasa seharusnya dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Rasa cinta bangsa kita kepada negara nampaknya makin pudar, semua fokus ke masalah uang. Kecewa dengan pemerintahan jangan berarti jadi ikut benci ke negara ini.

Waktu gua nonton Nagabonar 2 ini, gua hanya mikir, sindiran Deddy Mizwar ini rasanya akan ditertawakan oleh banyak penonton, dianggap sok iye, sok nasionalis, sok menggurui, sok alim, dan sok sok lainnya lah. Ternyata itu memang terjadi DIBEBERAPA orang, tapi di beberapa orang lainnya, gue menemukan teman gua nangis saat adegan Jend. Sudirman. Miris rasanya ketika kita sadar, siapa kita sebenarnya. Malu.. dan makin tolol dan sok tahu rasanya. Kehebatan kita saat ini memang bukan tandingan periode perjuangan kemerdekaan, tapi rasa kepedulian dan kebanggaan akan bangsa ini yang harusnya tetap sama. Karena itu tidak mengenal masa.
 
Jendral Soedirman?

Yoga sahabatku engkau terdengar tenang saat ini,
kerinduanmu akan sebuah panji kebesaran serta keadaanmu yang terduduk di lingkaran kebesaran hidup...Jln. Jendral Soedirman.

Jendral Soedirman?

Ya nama yang agung, lebih terkenal gayanya menghormat, dibandingan jasanya sendiri.
Bila ada seseorang dizamanku mengaguminya,
tentunya ia rindu akan sosok keagungan,
bila ada sebuah karya sineas membawanya ke layar perak,
pastilah ia seorang yang rindu akan julukan pahlawan,
bila engakupun kini terusik untuk menulisnya dalam blog ini...
pastilah engkau sedang mencoba untuk mengungkapkan...
kawanku..aku seorang nasionalis tulen,
yang berkarya dalam rimba elit kehidupan,
aku seorang nasionalis baru, yang sangat mengerti akan arti dari sebuah kebangsaan.

Namun engkau juga menyadari sahabatku...
bahwasanya engkau hanya mengajakku untuk berfikir....saat kita memandang patung Jendral Soedirman.

Lalu sahabatku, kepada siapa kita menghormat?
Kepada Tuhan..dan hati kecil kita, yang senantiasa bermuka majemuk, dan bersuara parau.

Merdeka Yog!!
"Sahabatmu yang paling nasionalis yang pernah kaubenci, namun kini tidak lagi".
 
Motul: film bagus tul, berlayer, mau diterima di level hiburan aja bisa, mau direading juga bisa

anonymous: wahai sahabatku, siapakah engkau, aku menebak2 tapi bisa salah juga.
 
Yoga sahabatku...
Seberapa salahkah engkau menebak?
Seberapa benar engkau berprasangka?
Namun nun jauh dalam hatimu kau masih mengenalku. Kurasakan itu.
Biarlah kini aku hanya berbagi karyamu...
mari sahabatku..tuliskan kembali kemilau kehidupan ini..anggaplah aku disampingmu.
 
Post a Comment



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?