Wednesday, June 13, 2007
2B or not 2B that is The Question
1a.
Sebuah iklan berkata atau bisa juga disebut bertanya, “Apa obsesimu?” Sebuah pertanyaan yang sering saya ajukan ke diri saya sendiri. Apa Obsesiku?
Dulu menjelang masa penghabisan kuliah, pertanyaan ini begitu menggebu. Walau munculnya dalam rangkaian kata yang berbeda, seperti: mau kerja di mana nanti?
Sebagai calon lulusan Ilmu Komunikasi Jurusan Komunikasi Massa yang gemar menulis, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Mau kerja di mediakah? Media cetak, radio, atau televisi? Jika media cetak, majalah atau surat kabar?
Baru belakangan disadari bahwa program studi sebelah, yaitu periklanan, juga menampung kegemaran menulis. Penulis naskah iklan. Maka so be it, jadilah saya seorang penulis naskah iklan.
1b.
Hampir sepuluh tahun kemudian, tak terhitung berapa kali saya bertanya. Benarkah pilihan pekerjaan saya? Jika benar, iklan seperti apa yang harus saya buat? Iklan yang menjual? Iklan murah? Iklan yang mendapat piala? Iklan yang cepat apruf? Iklan membawa perubahan wacana? Atau yang lebih melelahkan lagi kalau muncul pertanyaan, benarkah peran saya di dunia adalah hanya sebagai pembuat iklan?
Tak berhenti di situ, barisan pertanyaan lain akan mengikuti. Siapakah saya? Untuk apa saya hidup? Kenapa saya? Apakah peran saya?
Kemudian saya tertidur hari ini, dan esoknya terbangun dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dan pernahkah Anda bertanya seperti ini juga: Apakah kita istimewa? Apakah kita sama saja dengan milyardan orang lainnya di dunia? Apakah peran saya?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Kadang satu dalam sehari. Saat lainnya dua, tujuh, atau mengeroyok lebih ramai lagi. Kadang ia mengejutkan di siang bolong. Tak jarang ia membangunkan di tidur malam. Mengganggu di tengah ramai atau menemani di sendiri. Tak kuasa jika ingin dihindari.
Kepada siapa kita bisa mencari jawabnya? Kepada pasangan kita? Kepada orang tua kita? Kepada anak-anak kita? Kepada guru-guru kita? Kepada boss kita? Kepada senior kita? Kepada anak buah kita? Kepada tetangga kita? Kepada diri sendiri?
Dari hari ke hari kita terbangun, beraktifitas, dan tertidur lagi, untuk mengulangi rutin kita di keesokan harinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang hadir begitu kuat, kadang terlewatkan begitu saja. Belum tentu terjawab.
2a.
Maka mampukah Anda menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa kau begitu persuasif? Saat kau tahu bahwa kemampuanmu mengolah kata dapat mempengaruhi orang lain. Dapat membuat seseorang berbelok ke kiri atau kanan. Dapat membuat seseorang membunuh diri atau melihat sisi indah dari hidup. Dapat membuat seseorang menjual atau membeli. Menjadi menangis atau tersenyum. Tidur dan bermimpi atau terjaga semalaman
Maka mampukah kau menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang akan kau lakukan jika kau begitu sensitif? Jika tiba-tiba kau menyadari bahwa kau bisa mendengar segala macam rahasia. Rahasia yang disimpan rapat-rapat maupun yang diumbar untuk ditanggap. Rahasia yang menyenangkan hati atau menyakitkan hati. Rahasia yang begitu berarti atau tidak penting sama sekali. Rahasia yang memohon untuk diketahui atau yang ingin dibawa mati?
Maka cobalah juga menjawab: Apa yang akan kau lakukan bila kau begitu eksplosif? Jika kau mengetahui bahwa kau dapat meledak. Menjadi ledakan yang bukan hanya dapat melukai orang-orang terdekatmu, tapi juga dapat melukai orang-orang nun jauh entah di mana. Orang-orang yang kau benci maupun yang kau sayangi?
Maka cobalah jawab: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa dirimu terfragmentatif menjadi dua? Yang satu selalu mengajakmu berbuat baik sesulit apapun dan terasa lemah, membosankan dan melelahkan. Sementara yang satunya lagi selalu mengajakmu berbuat jahat, namun terasa begitu kuat, cepat, dan mengasyikan?
Coba juga jawab: Apa yang kau lakukan jika di angkasa kau begitu fluktuatif karena bisa terbang? Terbang untuk meninggalkan persoalan atau justru terbang mendatangi persoalan. Terbang membopong persoalan atau justru membuang persoalan?
Dan jawablah ini: Apa yang akan kau lakukan jika kau mendadak prophetic dan dapat merasakan masa depan? Masa depan yang mencekam dan tidak indah. Yang sudah tidak bisa ditolong walau kau bisa berjalan-jalan ke masa lalu. Sementara petunjuk di masa kini begitu samar?
2b.
Apa yang akan kau lakukan jika pilihan-pilihan tersebut hadir ke dirimu seorang? Hanya kau seorang dan bukan orang lain.
Apa yang akan kau lakukan jika kau mempunyai pilihan-pilihan: Untuk diam atau bertindak? Saat ini atau esok hari? Untuk masa lalu, masa depan, atau masa kini? Untuk disimpan sendiri atau berbagi? Untuk orang lain atau untuk diri sendiri? Untuk selamat sendiri atau keselamatan orang lain? Untuk melarikan diri atau menyediakan diri? Untuk menjadi pahlawan mungkin kesiangan atau menonton di pinggiran?
Siapkah dirimu untuk menghadapi barisan pertanyaan-pertanyaan ini? Karena cepat atau lambat sang takdir akan menghampirimu, ke mana pun kau bersembunyi.
Diilhami oleh Film Seri Heroes Volume Satu dan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di musim itu.
Cinta bukan hanya sekedar kata.
Cinta tak hanya diam.
Aku yang berkelana mengarungi hidup.
Mencari untaian arti makna.
Apakah sesungguhnya balasan dari cinta?
(Padi, Tak Hanya Diam)
Sebuah iklan berkata atau bisa juga disebut bertanya, “Apa obsesimu?” Sebuah pertanyaan yang sering saya ajukan ke diri saya sendiri. Apa Obsesiku?
Dulu menjelang masa penghabisan kuliah, pertanyaan ini begitu menggebu. Walau munculnya dalam rangkaian kata yang berbeda, seperti: mau kerja di mana nanti?
Sebagai calon lulusan Ilmu Komunikasi Jurusan Komunikasi Massa yang gemar menulis, ada beberapa pilihan yang bisa diambil. Mau kerja di mediakah? Media cetak, radio, atau televisi? Jika media cetak, majalah atau surat kabar?
Baru belakangan disadari bahwa program studi sebelah, yaitu periklanan, juga menampung kegemaran menulis. Penulis naskah iklan. Maka so be it, jadilah saya seorang penulis naskah iklan.
1b.
Hampir sepuluh tahun kemudian, tak terhitung berapa kali saya bertanya. Benarkah pilihan pekerjaan saya? Jika benar, iklan seperti apa yang harus saya buat? Iklan yang menjual? Iklan murah? Iklan yang mendapat piala? Iklan yang cepat apruf? Iklan membawa perubahan wacana? Atau yang lebih melelahkan lagi kalau muncul pertanyaan, benarkah peran saya di dunia adalah hanya sebagai pembuat iklan?
Tak berhenti di situ, barisan pertanyaan lain akan mengikuti. Siapakah saya? Untuk apa saya hidup? Kenapa saya? Apakah peran saya?
Kemudian saya tertidur hari ini, dan esoknya terbangun dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dan pernahkah Anda bertanya seperti ini juga: Apakah kita istimewa? Apakah kita sama saja dengan milyardan orang lainnya di dunia? Apakah peran saya?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Kadang satu dalam sehari. Saat lainnya dua, tujuh, atau mengeroyok lebih ramai lagi. Kadang ia mengejutkan di siang bolong. Tak jarang ia membangunkan di tidur malam. Mengganggu di tengah ramai atau menemani di sendiri. Tak kuasa jika ingin dihindari.
Kepada siapa kita bisa mencari jawabnya? Kepada pasangan kita? Kepada orang tua kita? Kepada anak-anak kita? Kepada guru-guru kita? Kepada boss kita? Kepada senior kita? Kepada anak buah kita? Kepada tetangga kita? Kepada diri sendiri?
Dari hari ke hari kita terbangun, beraktifitas, dan tertidur lagi, untuk mengulangi rutin kita di keesokan harinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kadang hadir begitu kuat, kadang terlewatkan begitu saja. Belum tentu terjawab.
2a.
Maka mampukah Anda menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa kau begitu persuasif? Saat kau tahu bahwa kemampuanmu mengolah kata dapat mempengaruhi orang lain. Dapat membuat seseorang berbelok ke kiri atau kanan. Dapat membuat seseorang membunuh diri atau melihat sisi indah dari hidup. Dapat membuat seseorang menjual atau membeli. Menjadi menangis atau tersenyum. Tidur dan bermimpi atau terjaga semalaman
Maka mampukah kau menjawab jika muncul pertanyaan: Apa yang akan kau lakukan jika kau begitu sensitif? Jika tiba-tiba kau menyadari bahwa kau bisa mendengar segala macam rahasia. Rahasia yang disimpan rapat-rapat maupun yang diumbar untuk ditanggap. Rahasia yang menyenangkan hati atau menyakitkan hati. Rahasia yang begitu berarti atau tidak penting sama sekali. Rahasia yang memohon untuk diketahui atau yang ingin dibawa mati?
Maka cobalah juga menjawab: Apa yang akan kau lakukan bila kau begitu eksplosif? Jika kau mengetahui bahwa kau dapat meledak. Menjadi ledakan yang bukan hanya dapat melukai orang-orang terdekatmu, tapi juga dapat melukai orang-orang nun jauh entah di mana. Orang-orang yang kau benci maupun yang kau sayangi?
Maka cobalah jawab: Apa yang kau lakukan jika kau mengetahui bahwa dirimu terfragmentatif menjadi dua? Yang satu selalu mengajakmu berbuat baik sesulit apapun dan terasa lemah, membosankan dan melelahkan. Sementara yang satunya lagi selalu mengajakmu berbuat jahat, namun terasa begitu kuat, cepat, dan mengasyikan?
Coba juga jawab: Apa yang kau lakukan jika di angkasa kau begitu fluktuatif karena bisa terbang? Terbang untuk meninggalkan persoalan atau justru terbang mendatangi persoalan. Terbang membopong persoalan atau justru membuang persoalan?
Dan jawablah ini: Apa yang akan kau lakukan jika kau mendadak prophetic dan dapat merasakan masa depan? Masa depan yang mencekam dan tidak indah. Yang sudah tidak bisa ditolong walau kau bisa berjalan-jalan ke masa lalu. Sementara petunjuk di masa kini begitu samar?
2b.Apa yang akan kau lakukan jika pilihan-pilihan tersebut hadir ke dirimu seorang? Hanya kau seorang dan bukan orang lain.
Apa yang akan kau lakukan jika kau mempunyai pilihan-pilihan: Untuk diam atau bertindak? Saat ini atau esok hari? Untuk masa lalu, masa depan, atau masa kini? Untuk disimpan sendiri atau berbagi? Untuk orang lain atau untuk diri sendiri? Untuk selamat sendiri atau keselamatan orang lain? Untuk melarikan diri atau menyediakan diri? Untuk menjadi pahlawan mungkin kesiangan atau menonton di pinggiran?
Siapkah dirimu untuk menghadapi barisan pertanyaan-pertanyaan ini? Karena cepat atau lambat sang takdir akan menghampirimu, ke mana pun kau bersembunyi.
Diilhami oleh Film Seri Heroes Volume Satu dan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di musim itu.
Cinta bukan hanya sekedar kata.
Cinta tak hanya diam.
Aku yang berkelana mengarungi hidup.
Mencari untaian arti makna.
Apakah sesungguhnya balasan dari cinta?
(Padi, Tak Hanya Diam)
Comments:
<< Home
...hmm.. DAN! pernahkah mengalami (bukan sebatas membayangkan) mata kesadaran menjungkirbalikkan keyakinan -terhadap apapun- yang selama ini kaupegang- saling beradu-pacu berebut makna dan tempat dengan gempuran pertanyaan tak berujung pangkal: apa yang sesungguhnya telah kau perbuat untuk memaknai tugas hidupmu?
hmmm... DAN! memang tak selalu butuh jawaban instan. Karena seringkali kau dapati
sepi-kau sepi-ku sepi-Siapa, yang tersimpan jauh di kedalaman kalbu itu tiba-tiba menghentak dengan gelegar melebihi suara halilintar?
(masihkah kau/aku mengenali aku/kau?)
hmmm... DAN! memang tak selalu butuh jawaban instan. Karena seringkali kau dapati
sepi-kau sepi-ku sepi-Siapa, yang tersimpan jauh di kedalaman kalbu itu tiba-tiba menghentak dengan gelegar melebihi suara halilintar?
(masihkah kau/aku mengenali aku/kau?)
In the end,
it's not about doing this or that,
but simply about being Who You Are -
whatever You Chose To Be.
Because there is
no right or wrong,
nor are there mistakes,
nor even what we call 'Coincidences'.
Life is a journey to be experienced, not a mystery to be solved.
Whatever happened now,
has already happened
and will happen.
*inspired by Heroes & Conversation with Gods Book 1,2,3
*anjjrrrrrrrrrrriitttt... baca postingan elo jadi ikut filosofis giniii huhuhhuh*
FansNo1-mu.
it's not about doing this or that,
but simply about being Who You Are -
whatever You Chose To Be.
Because there is
no right or wrong,
nor are there mistakes,
nor even what we call 'Coincidences'.
Life is a journey to be experienced, not a mystery to be solved.
Whatever happened now,
has already happened
and will happen.
*inspired by Heroes & Conversation with Gods Book 1,2,3
*anjjrrrrrrrrrrriitttt... baca postingan elo jadi ikut filosofis giniii huhuhhuh*
FansNo1-mu.
hmmm....sahabatku kini takdir menghantui imajinasimu.
Atau mungkin engkau sedang bersenda gurau dalam kata-kata?
Aku mengenalmu dengan baik sahabatku...
tak pernah kulihat adanya ketakutan akan takdir dalam dirimu...
tak pernah kurasakan getar hatimu dalam menyongsong esok hari atau masa depan.
Aku mengenalmu dalam apa adanya.
Kegundahan itu telah kembali padamu...
kegundahan akan seseorang yang engkau telah lama nantikan...
kegundahan itu memang bagai bom waktu.
Sahabatku bila engkau memberiku pertanyaan 2B or not 2B?
Aku akan menjawabnya. Jawaban yang engkau telah ketahui... yaitu biarlah takdir menjemput kita.
Sahabatku bila engkau mengungkapkan tentang pilihan....engkau adalah manusia dengan pilihan yang paling jelas diantara kita...maka aku akan diam.
Sahabatku...bila saja seluruh kenyataan ini selalu berakhir sempurna, dan bila saja semua keinginan kita tersedia begitu saja, juga bila saja semua cinta terbuka bagi si buruk rupa sekalipun...
berarti kita mempertanyakan kebesaranNya.
Ada apa sebenarnya wahai sahabatku?
Siapa yang engkau nantikan?
Siapa yang engkau rindukan?
Siapa yang telah menolak gapaimu?
Apa dia yang selalu berada disampingmu namun selalu asing bagimu?
Siapa sahabatku?
Apa engkau dirudung kebosanan?
Terkadang kita manusia selalu berbelit...
dan lagi berbelit hanya sekedar untuk berteriak dalam sunyi.
Dobraklah kesunyian itu Yoga...
binasakan pagar-pagar kemunafikan yang selalu ada didepan kita...
Hancurkan, lepaskan....teriakan...
karena sesungguhnya engkau adalah juga seseorang.
sahabatmu
"yang selalu terlihat lengah namun selalu berani"
Atau mungkin engkau sedang bersenda gurau dalam kata-kata?
Aku mengenalmu dengan baik sahabatku...
tak pernah kulihat adanya ketakutan akan takdir dalam dirimu...
tak pernah kurasakan getar hatimu dalam menyongsong esok hari atau masa depan.
Aku mengenalmu dalam apa adanya.
Kegundahan itu telah kembali padamu...
kegundahan akan seseorang yang engkau telah lama nantikan...
kegundahan itu memang bagai bom waktu.
Sahabatku bila engkau memberiku pertanyaan 2B or not 2B?
Aku akan menjawabnya. Jawaban yang engkau telah ketahui... yaitu biarlah takdir menjemput kita.
Sahabatku bila engkau mengungkapkan tentang pilihan....engkau adalah manusia dengan pilihan yang paling jelas diantara kita...maka aku akan diam.
Sahabatku...bila saja seluruh kenyataan ini selalu berakhir sempurna, dan bila saja semua keinginan kita tersedia begitu saja, juga bila saja semua cinta terbuka bagi si buruk rupa sekalipun...
berarti kita mempertanyakan kebesaranNya.
Ada apa sebenarnya wahai sahabatku?
Siapa yang engkau nantikan?
Siapa yang engkau rindukan?
Siapa yang telah menolak gapaimu?
Apa dia yang selalu berada disampingmu namun selalu asing bagimu?
Siapa sahabatku?
Apa engkau dirudung kebosanan?
Terkadang kita manusia selalu berbelit...
dan lagi berbelit hanya sekedar untuk berteriak dalam sunyi.
Dobraklah kesunyian itu Yoga...
binasakan pagar-pagar kemunafikan yang selalu ada didepan kita...
Hancurkan, lepaskan....teriakan...
karena sesungguhnya engkau adalah juga seseorang.
sahabatmu
"yang selalu terlihat lengah namun selalu berani"
dalam ketakmenentuan, kita cuma punya insting Yog. terkadang petunjuk itu datang begitu samar sehingga mengaburkan kebenerannya, atau memang petunjuk yg benar itu harus datang dalam wujud kesamaran?
pada akhirnya saat orang yang kita gak kenal datang dan bilang 'save the cheerleader, save the world' siapa yang harus kita percaya?
pada akhirnya saat orang yang kita gak kenal datang dan bilang 'save the cheerleader, save the world' siapa yang harus kita percaya?
begitulah jadinya saat kita "terdidik" untuk selalu melihat "ego". Kehidupan di alam semesta beserta semua unsur yang terlibat sepertinya melulu harus kembali ditarik ke posisi akunya aku.
Apakah semut punya pertanyaan2 esensial di dalam hidupnya?
hehe..
Apakah semut punya pertanyaan2 esensial di dalam hidupnya?
hehe..
mungkin adalah kata pertama yang akan menjadi pasti, tatkala Dia berkata "ini janji"
Karena adalah kata pertama yang akan menjadi doa, tatkala Dia berkata "ini bisa"
Mungkin karena aku manusia, aku percaya
Karena mungkin Dia ada, aku berdoa
Aku adalah mungkin,
Aku adalah karena.
Karena adalah kata pertama yang akan menjadi doa, tatkala Dia berkata "ini bisa"
Mungkin karena aku manusia, aku percaya
Karena mungkin Dia ada, aku berdoa
Aku adalah mungkin,
Aku adalah karena.
Yang pasti Yog....2B itu lebih diterima untuk mengisi lembar jawaban elektronik, kayak waktu ngisi FRS heheheheh. -jaja-
Post a Comment
<< Home


